![]() |
| Bersama Tim CSSN UIN Jakarta dan UIN Surakarta |
Di sebagian sudut masyarakat
kita, pemandangan ini mungkin masih ada: seorang anak dengan disabilitas
disembunyikan di dalam rumah saat tamu berkunjung. Ada stigma purba yang belum
sepenuhnya terkikis, sebuah pandangan awam yang keliru bahwa melahirkan atau
memiliki anggota keluarga dengan keterbatasan fisik maupun mental adalah sebuah
aib, kutukan, atau hukuman atas dosa masa lalu. Ketakutan akan cemoohan
lingkungan sosial sering kali membuat keluarga memilih menarik diri, mengunci
potensi sang anak, dan merenggut hak paling mendasarnya untuk tumbuh di tengah
masyarakat.
Pandangan diskriminatif ini jelas
bertolak belakang dengan napas inklusivitas yang diusung oleh Islam. Jauh
sebelum dunia modern merumuskan konsep inclusive education atau
pemenuhan hak-hak penyandang disabilitas, Islam telah meletakkan fondasi
kemanusiaan yang sangat kukuh: bahwa kemuliaan seorang manusia tidak pernah
diukur dari kesempurnaan fisik atau biologisnya, melainkan dari ketakwaan dan
kebersihan hatinya.
Teguran Langit tentang
Kesetaraan

.jpeg)