Gema takbir Idul Fitri perlahan memudar, berganti dengan kesibukan arus balik yang memadati jalanan. Namun, di balik keriuhan itu, ada sebuah drama sunyi yang terjadi di ribuan rumah tangga di Indonesia: dilema santri yang enggan kembali ke pondok pesantren. Tas-tas besar sudah dipacking, kitab-kitab sudah dirapikan, namun wajah sang anak muram, bahkan tak jarang diiringi isak tangis atau aksi mogok bicara. Fenomena "sindrom pasca-lebaran" ini menjadi tantangan psikologis sekaligus ujian keimanan bagi santri maupun orang tua.
Jebakan Zona Nyaman dan Psikologi "Loss Aversion"
Secara psikologis, rumah adalah simbol unconditional comfort—tempat di mana seorang anak mendapatkan kasih sayang tanpa batas, makanan favorit, dan otonomi waktu. Setelah berbulan-bulan hidup dalam kedisiplinan ketat pesantren—bangun sebelum subuh, antre mandi, hingga jadwal mengaji yang padat—kepulangan ke rumah adalah sebuah "replevin" atau pemulihan kenyamanan.


