Saturday, November 7, 2026

Ekonomi Tumbuh, Tapi Dompet Malah Mengkerut: Emang Ekonomi Mau Pamer Apa Mau Ngasi Makan?

Lagi mikir

Warga sekalian, mari kate ade peribahasa baru buat zaman now: “Badan boleh pegel, dompet boleh kosong, tapi statistik harus tetap senyum.”

Tiap kali ngeliat berita TV atau baca koran, ati rassa adem bener. Katanya, ekonomi kite lagi meroket tinggi kayak roket luar angkasa. Tengok ajé angka resmi per Kuartal III-2026, ekonomi Indonesia kabarnya tumbuh 5,47%, naék dibanding kuartal sebelumnya yang anteng di 5,29%. 

Wah, hebat bener! Rasanya pengen sujud syukur sambil kibar-kibar bendera.

Tapi, sabar dolo, cing... Jangan girang mulu. Begitu kaki nginjek pasar, giliran pala puyeng tujuh keliling. Pasalnya, pertumbuhan ekonomi yang katanya tinggi itu kok rasanya gak mampir-mampir ke dompet rakyat kecil? Ibarat kue tart gede di pesta orang kaya, rakyat jelata cuma dapet bagian nyium aromanya doang lewat angin. Lah, emangnye perut bisa kenyang cuman modal aroma?

Konsumsi Melambat, Tapi Cabai Malah Ikutan Workout

Friday, November 6, 2026

Kerja Cuma Sejam, Dompet Adem, Hati Tentrem: Sichte, Pengangguran "Turun" tapi Bikin Senyum Pahit!

 

Asyem

Ade, kaga usah heran lu kalau denger kabar angin bilang angka pengangguran di kita lagi pada turun drastis macem air kaliéro pas lagi kemarau. Berdasarkan data anyar dari Badan Pusat Statistik (BPS) per Agustus 2026, jumlah penduduk yang udah dibilang "bekerja" meroket sampe 147,99 juta orang. Enak bener kan didenger? Padahal, sabar dulu, Jendral! Jangan buru-buru sujud syukur sambil bagi-bagi beras. Coba kita bedah pake pala dingin sambil ngopi di pinggir jalan.

Kalo dirinci-rinci, dari angka sakti itu, yang bener-bener kerja full alias penuh cuma 99,85 juta orang. Sisanya? Ada 35,30 juta orang jadi pekerja paruh waktu, dan yang bikin jidat berkerut-kerut kening, ada 12,84 juta jiwa masuk kategori setengah pengangguran! Nah, lho, mau dibilang nganggur tapi malu, mau dibilang punya kerjaan tapi gak cukup buat beli rokok sebatang dua batang.

Standar Internasional, Tapi Bikin Geleng-geleng Kepala

Friday, October 30, 2026

Menenun Ekonomi Sirkular: Dari Nilai Islam Hingga Kearifan Lokal Nusantara

 

Its Me

Isu krisis lingkungan dan penumpukan sampah global kini bukan lagi gertakan di atas kertas. Di tengah ancaman perubahan iklim dan penurunan daya dukung lingkungan, wacana pembangunan berkelanjutan terus mencari bentuk idealnya. Salah satu paradigma ekonomi yang kini menjadi arus utama dunia adalah ekonomi sirkular (circular economy).

Secara formal, ekonomi sirkular mendefinisikan ulang model pertumbuhan ekonomi linear tradisional yang memeluk prinsip "ambil, buat, buang" (take-make-dispose). Ekonomi sirkular adalah sebuah sistem ekonomi yang dirancang untuk mempertahankan nilai produk, bahan, dan sumber daya dalam ekonomi selama mungkin, serta meminimalkan pembentukan limbah. Namun, ekonomi sirkular tidak sempit hanya sebatas praktik daur ulang (recycle), pemanfaatan kembali (reuse), atau pengurangan limbah (reduce). Lebih luas dan mendasar dari itu, ekonomi sirkular adalah komitmen untuk mengelola serta menjaga sumber daya alam secara bertanggung jawab, terukur, dan berkelanjutan agar regenerasi ekosistem tetap terjaga bagi generasi mendatang.

Bagi masyarakat Indonesia, konsep sirkularitas sebenarnya bukanlah barang asing yang diimpor dari Barat. Jauh sebelum istilah zero waste atau ekonomi sirkular populer, adat dan budaya Nusantara telah mempraktikkan filosofi hidup berimbang dengan alam. Tradisi masyarakat adat Sunda dengan konsep Kasepuhan Pasundan atau masyarakat Baduy dengan aturan pikukuh-nya yang melarang merusak hutan dan mencemari aliran sungai adalah contoh nyata. Di Jawa, dikenal filosofi memayu hayuning bawana—kewajiban manusia untuk memperindah dan menjaga kelestarian dunia. Praktik keseharian masyarakat desa yang memanfaatkan sisa makanan untuk pakan ternak, mengolah sampah organik menjadi pupuk kompos, hingga penggunaan pembungkus alami seperti daun pisang dan jati merupakan manifestasi gaya hidup zero waste berbasis kearifan lokal yang telah berakar ratusan tahun.

Kearifan budaya ini menemukan pijakan teologis yang sangat kuat dalam ajaran Islam. Islam menempatkan lingkungan bukan sekadar sebagai objek eksploitasi, melainkan sebagai bagian dari ayat-ayat Allah (ayat kauniyah). Dalam Al-Qur'an, Allah SWT menegaskan bahwa segala sesuatu di alam semesta ini diciptakan dalam keteraturan, keseimbangan, dan tidak ada yang sia-sia (QS. Ali 'Imran: 191).