Gema takbir yang beberapa waktu
lalu membahana di langit nusantara kini mulai memudar, digantikan oleh deru
mesin kendaraan yang membawa jutaan pemudik kembali ke rutinitas urban. Namun,
bagi mahasiswa, "arus balik" kali ini bukan sekadar urusan fisik
berpindah dari kampung halaman ke kamar kos. Ada beban ganda yang menunggu di
atas meja belajar: dinamika geopolitik global yang kian memanas di Timur Tengah
dan perjuangan batin melawan lembah depresi pasca-liburan atau post-holiday
blues.
Geopolitik: Ketika Konflik
Jauh Terasa Dekat
Saat kita asyik menyantap ketupat
bersama keluarga, tensi di Timur Tengah—khususnya eskalasi antara aktor-aktor
utama produsen minyak—berada pada titik didih. Bagi mahasiswa, mungkin muncul
pertanyaan: “Apa hubungannya konflik di Teluk dengan tugas kuliah saya?”
Jawabannya adalah ketahanan.
Ketegangan di Selat Hormuz (perang Iran – Israel/Amerika) berdampak langsung
pada rantai pasok energi global. Indonesia, sebagai negara importir minyak
mentah, sangat rentan terhadap fluktuasi harga ini. Kenaikan harga energi bukan
sekadar angka di berita, tapi potensi inflasi yang merembet ke harga kuota
internet, biaya transportasi ojek online, hingga harga seporsi nasi di kantin
kampus, warteg atau warsun.
Di sinilah urgensi hemat energi
bergeser maknanya. Ia bukan lagi sekadar jargon peduli lingkungan yang klise,
melainkan tindakan patriotik yang pragmatis. Mahasiswa sebagai kelas menengah
terdidik harus memimpin budaya efisiensi. Mematikan AC dan lampu saat kelas
berakhir, beralih ke transportasi publik, atau sekadar mengurangi penggunaan
perangkat elektronik yang tidak perlu, hingga berjalan kaki dari kos-an ke
kampus adalah bentuk solidaritas nasional dalam menjaga stabilitas ekonomi di
tengah badai geopolitik.